Kisah Aku Bukan Dia

Kisah ini melukiskan perasaanku dengan seorang wanita, entah darimana awal kisah ini terjadi, tapi kisah ini membuat aku sangat terpukul dan mersa menjadi pecundang.

Aku menyukai seorang wanita yang sudah lama aku taksir. sudah hampir tiga tahun aku menyukai Winda, namun sampai saat ini juga Aku belum bisa mengungkapkan perasaanku pada Winda. Aku tidak tahu apa yang selama ini menahanku mulutku unuk mengungkapkan perasaanku pada Winda. Padahal setiap akhir pekan kami pergi bersama dan kami sudah sangat dekat, banyak orang yang mengira kami sudah berpacaran, tapi nyatanya belum.
Setiap aku ingin melakukan pendekatan pada Winda biasanya aku selalu curhat dengan temanku bernama Rifki. Rifki selalu memberi saran padaku cara mendekati Winda, semua caranya berhasil tapi tetap saja Aku belum bisa mengungkapkan perasaanku pada Winda.

Pada suatu hari aku dan berencana untuk mengajak Winda ke pantai Sarwana. Aku berniat mengungkapkan perasaanku di pantai itu, perlengkapan perjalanan semua telah ku siapkan termasuk sebuah bunga mawar untuk menambah kesan romantis saat aku utarakan cintaku Nanti. Aku pun berniat mengajak Rifki dan teman wanitanya diana, agar diperjalanan aku bisa minta saran Rifki dulu sebelum mengutarakan cintaku.

Sampai ditempat perasaanku sangat gugup, karna aku hanya duduk berdua ditepi pantai bersama Winda. Suara ombak dan kicauan burung menambah romantis keadaan itu, aku sudah siap dengan bunga yang ku taruh didalam tas. namun lidahku tetap saja tak bisa berkata apa-apa. lalu tiba-tiba Winda memulai pemicaraan “terima kasih ya, kamu sudah ngajak aku kesini” Winda dengan senyuman. aku pun cuma bisa mengangguk karna aku sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk memulai bicara. Tiba-tiba Rifki dan Diana datang menghampiri kami, akhirnya kami bercanda dipantai hingga senja tiba dan aku lupa dengan misiku untuk mengutarakan cinta. Kami pulang, dan aku melupakan semuanya.

****

Sudah tiga bulan dari perjalanan kami ke pantai itu, aku jarang sekali bertemu dengan Winda, karna sejak itu Winda sulit sekali aku hubungi, namun aku hanya berpikir positif kalau Winda sedang sibuk dengan pekerjaannya. hari berganti hari rasa rinduku pada Winda pun tidak terbendung lagi, dan aku berniat menemui winda dirumahnya. Aku tak akan menyia-nyiakan waktu jika aku bertemu Winda nanti, aku akan mengutarakan semua perasaanku padanya selama ini.

Sampai di rumah Winda Aku melihat Winda sudah ada didepan gerbang rumahnya, sepertinya ia akan pergi. ini kesempatan bagiku untuk mengungkapkan perasaanku. Winda melihat dengan tatapan terkejut, aku nampak asing dimatanya, tapi ini tak akan mengurungkan niatku untuk mengungkapkan cinta padanya.

“Winda, selama ini kamu kemana saja, mengapa setiap aku hubungi selalu kamu tutup telponnya, kenapa setiap aku SMS kamu tidak balas? Aku begitu khawatir dengan keadaanmu. Winda, selama ini aku memendam perasaan padamu, setiap detik aku selalu memikirkanmu. Aku tak tahu perasaan apa ini, tapi yang pasti Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu jauh lagi dariku” dengan terbinar-binar aku mengungkapkan perasaanku, dan berharap ia akan mengatakan yang sama sepertiku. Tiba-tiba datang seoran pengendara sepeda motor menghampiri kami. Bukankah itu sepeda motor Rifki? pikirku. setelah pemilik motor itu membuka helmnya ternyata benar ia adalah Rifki. Di sela ke herananku dengan kehadiran Rifki, Winda pun mengatakan sesuatu.

“Tidakkah kamu tahu? selama ini aku menunggu kamu, selama ini aku berusaha meyakinkan hatiku bahwa kamulah laki-laki yang akan jadi pendamping hidupku. namun semua terlalu lama, hingga aku mengenal Rifki darimu, tanpa sepengetahuanmu aku selalu curhat dengan Rifki tentangmu. tiba-tiba perasaan itu hadir, aku menemukan sosok yang aku inginkan pada diri Rifki, ia mampu membuat aku nyaman, ia mampu membuatku tersenyum saat aku bersedih menunggumu. Maafkan Aku. Aku sudah milik yang lain” Winda dengan suara serak dan mata berkaca-kaca. Winda pun bergegas menaiki sepeda motor bersama Rifki dan meninggalkan aku sendiri.

Tak kusangka teman yang ku percaya selama ini dan pujaan hati yang aku idamkan selama ini telah mengkhianatiku. Kenapa tidak semenjak dulu aku mengutarakan cinta pada Winda, kenapa Aku harus mengenalkan Winda pada Rifki?. ditengah banyak pertanyaan aku menyadari, bahwa bukan Rifki yang bersalah dan membuat hatiku hancur, tapi diri sendiriku lah yang menghancurkannya.

Kisah ini pun berakhir dengan pernikahan Winda dan Rifki. Namun Kisah aku belum berakhir.

Terima kasih telah membaca kisah cerita tentang aku bukan perasaanmu, cerita sedih terlambat aku mengungkapkan perasaanku. Apabila kisah cerita ini bermanfaat silakan dibagikan, terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *